Kumpulan Kisah Mengenai Kepolisian

DIMANA KUTEMUKAN AKU

Dimana
Kutemukan Aku
Waktu aku kecil
Kubertanya pada ibuku

Ibu mengapa aku ada?
Karena Kasih Tuhan anakku, jawabnya
Ibu di mana aku engkau temukan ?
Tanyaku lagi
Di dalam cinta bapak dan ibumu, Nak!
Engkau dari Kantong Tuhan,
Katanya lagi

Setelah dewasa, aku menjadi Polisi
Kembali aku bertanya pada diriku
Mengapa aku jadi Polisi?
Apakah ini kasih Tuhan?
Di mana dapat kutemukan?
Kurenungkan, untuk mencari jawaban

Tahu aku, kutemukan sudah
Semua ada di Hati
Hati siapa tanyaku lagi
Yaa… hati rakyat yang kulayani

Chryshnanda DL
Continue..

Jauh Lebih Ketat

Bukan rahasia lagi jika wajah lembaga intelijen Indonesia masih dianggap semrawut. Namun di balik cap miring itu, masih ada satu peranan yang membuat Indonesia bangga. Rupanya dalam hal menjaga kerahasiaan Intelijen Indonesia yang mengaplikasikannya pada level yang sangat ketat.

Di Israel, agen satuan tugas (satgas) Mossa yang satu tidak akan saling mengetahui apa yang dikerjakan rekannya dari satgas lain.

Di Inggris, agen M16 dari biro yang satu tidak memahami misi apa yang diemban oleh agen M16 dari biro lainnya.

Bahkan, agen CIA (Dinas Intelijen Amerika) tidak tahun apa yang dilakukan sesame agen di sebelahnya.

Tapi itu semua tidak ada apa-apanya ketimbang agen Intelijen Indonesia. Di negeri ini, seorang intel tidak tahu apa yang dia kerjakan!
Continue..

Pengemudi yang Taat

Lantaran sering ditilang Polantas di dekat Kantornya, Alfian berniat balas dendam lewat cara mempersenjatai diri dengan semua syarat menaiki motor : SIM, STNK, helm, kaca spion dan dengan pongah berkata pada Pak Polisi yang acap kali menangkapnya itu.

Alfian : “Hari ini saya menjadi pengendara motor yang taat”.
Pak Polisi : “Oh ya?”
Alfian : “Saya membawa SIM, STNK memakai helm dan kaca spion juga sudah saya pasang keduanya.”
Pak Polisi : “Namun, ada yang aneh pada dirimu hari ini.”
Alfian : “Apa itu, Pak?”
Pak Polisi : “Dimana motor kamu? Kenapa enggak dibawa?”
Alfian : “???????”.
Continue..

Polisi Yahukimo jadi Guru


Anggota Polri yang bertugas di pedalaman Papua harus memiliki mental yang tebal dalam menghadapi dan menangani semua kendala tugas dan keterbatasan, baik keterbatasan diri sendiri maupun lingkungan sekitarnya. Anggota Polres Yahukimo yang bertugas di Distrik Sumohai Kabupaten Yahukimo tanpa mengkesampingkan tugasnya selaku anggota
Polisi juga peduli dengan lingkungan sekitarnya. Mereka menyempatkan diri untuk mengajar di salah satu SD yang terdapat pada Distrik tersebut.

Bripda Basri Jaya Tompo anggota Satuan Samapta Polres Yahukimo bersama-sama dengan beberapa rekannya merasa terpanggil untuk memberikan ilmu kepada murid-murid yang ada di SD tersebut. Hal tersebut dilakukan karena melihat keinginan dari masyarakat setempat yang mendorong anak-anak mereka yang masuk usia sekolah untuk bersekolah. Namun sayang, sekolah tersebut terkendala akan kurangnya tenaga pengajar.

Melihat situasi keamanan pada saat, akan dan pada pelaksanaan pemungutan suara berjalan aman dan terkendali, beberapa anggota Polres Yahukimo berinisiatif untuk mengajar di sekolah. walaupun hanya mengajar beberapa pelajaran dasar seperti menghitung ataupun membaca, tetapi kegiatan tersebut berjalan lancar. Murid-murid yang belum mengerti materi yang disampaikan, tanpa ragu langsung ke depan kelas untuk bertanya kepada para pengajar. Padahal bila kita sadari mereka merupakan seorang
figur Polisi yang notabene bukan seorang guru. Akan tetapi dengan niat tulus, diimbangi dengan semangat tugas yang luhur maka semua keterbatasan tersebut alhamduliilah dapat teratasi.

SUMBER :
Majalah Rastra Samara Polda Papua.
Edisi Khusus HUT Bhayangkara ke-63 Tahun 2009.

Continue..

Polantas Jaman Dulu

Demikianlah keadaan Polisi Lalu Lintas (Polantas) saat pendahulu Kepolisian bertugas. Pada jaman itu tidak ada lampu trafick light (lampu merah, kuning, hijau di perempatan jalan). Untuk mengatur lalu lintas di perempatan jalan, Polisi berdiri di tengah-tengah perempatan sambil memutar secara manual kode berjalan dan berhenti seperti gambar di samping.

Benda berbentuk kotak pada ujung tiang tersebut bertulis "Berjalan" dan "Berhenti". Polisi di bawahnya memutar bergiliran kode tersebut melalui tuas yang ada di bawahnya secara manual untuk mengatur lalu lintas. Sebuah payung sekedarnya, sedikit membantu untuk menghindari panas dan rintikan hujan.

Pekerjaan tersebut memerlukan dedikasi, ketanggapan dan kejelian. Bagi mereka, menjadi petugas dalam mengamankan arus lalu lintas, merupakan sebuah kebanggaan yang dijalankan secara ikhlas. Dari sini kita bisa membayangkan betapa mulianya amal perbutan tersebut.

Jaman terus berganti, kini rambu-rambu lalu lintas di perempatan jalan bekerja secara otomatis dengan adanya lampu trafick light. Meskipun begitu, nilai jaman dahulu tidak jauh berbeda dengan jaman sekarang, Polisi masih diperlukan di perempatan jalan untuk mengatur lalu lintas dan masyarakatnya.

Meskipun sekarang Polantas di perempatan bekerja lebih mudah, akan tetapi semangat pengabdian yang ikhlas pada jaman dulu harus tetap bersemi pada setiap anggota Polisi pada setiap masanya baik dulu, kini dan yang akan datang. Sehingga mereka sadar, bahwa ini merupakan pekerjaan yang mulia dan bernilai pahala di sisi-Nya apabila dikerjakan dengan tulus ikhlas.

SUMBER FOTO :
Majalah Machdum Sakti
Nomor 2 Tahun XII - Juni 2009
Continue..

Polisi Baik dan Polisi Buruk

Dalam banyak kisah yang dibuat para pembuat film, sering ada dua wajah untuk menggambarkan Polisi, yaitu Polisi Baik dan Polisi Buruk. Polisi baik adalah mereka yang digambarkan bisa tampil dalam perannya sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat. Polisi buruk adalah mereka yang digambarkan tampil dalam perilaku menakutkan, bersikap mentang-mentang dan mata duitan. (Akhlis Suryapati, Wartawan/Seniman)

SUMBER :
Majalah Jagratara - Edisi Juli 2009)

Continue..