Kumpulan Kisah Mengenai Kepolisian

Lulus dengan Sogok, Polisi Ini Akhirnya Melepas Seragamnya


“Pekerjaan yang kita dapatkan dengan cara yang haram (sogok/suap), tidak akan pernah membawa berkah, bahkan bisa membawa kita kepada kelalaian dan kemaksiatan. 

Karena cinta Allah kepada saya. Allah beri hidayah tuk meninggalkan seragam yang saya dapat dengan cara tidak halal ini., dan kini Allah menyibukkan saya dalam perkara agama dan dakwah. Terimakasih untuk Hidayah yang manis ini”

Tulisan di atas diambil dari akun instagram, bernama Joe Khana Al-Ahmad. Dari akun instagramnya, diketahui bahwa Joe Khana Al-Ahmad merupakan salah seorang mantan anggota Polisi Aceh. Beliau berhenti menjadi anggota Polri karena beliau mendapatkan pekerjaannya tersebut dengan cara yang haram (sogok/suap).

Menjadi anggota Polisi adalah pekerjaan mulia, namun apabila menjadi anggota Polri diawali dengan sogok / suap maka ini jelas-jelas telah melanggar aturan baik dari sudut pandang agama maupun dari segi hukum positif yang berlaku di Indonesia.

Dalam pandangan Islam, praktik suap / sogok tidak dibenarkan. Beberapa dalil dijadikan landasan hukum ini, salah satunya ayat dalam QS. al-Baqarah: 188). “Dan janganlah sebagian kamu memakan sebagian harta sebagian yang lain diantara kamu dengan jalan batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim supaya kamu dapat memakan sebahagian dari pada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” 

Nabi Muhamad SAW juga sudah menegaskan dalam hadisnya, “Orang yang menyogok dan orang yang disogok, masuk neraka. (HR Bukhari).” 

Juga hadits dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat/mengutuk orang yang menyuap, yang menerima suap dan orang yang menghubungkan keduanya.” [HR. Ahmad dalam bab Musnad Anshar radhiyallahu ‘anhum] 

Dalam pandangan Islam, pekerjaan yang diawali dengan suap akan selalu mendapatkan gaji haram lantaran diawali dengan suap. Ini dikarenakan ada keterkaitan sebab dan akibat antara risywah (suap) dan gaji. Bayangkan saat orang tua atau keluarga menyogok agar anaknya menjadi Polisi maka maka orang tua tersebut telah menjerumuskan dirinya sendiri dan anaknya keneraka. Gaji yang diterima anaknya tersebut merupakan gaji haram untuk dimakan. Tidak cukup sampai di situ, pada saat dia mulai membangun rumah tangganya sendiri suatu hari nanti maka dia akan memberi makan anak dan istrinya dengan uang haram tersebut. 

Selain dari sudut pandang agama, dalam pandangan hukum positif di Indonesiapun sogok / suap juga tidak dibenarkan dan dapat dihukum pidana, baik orang yang menyogok, maupun yang disogok serta orang yang berkaitan dengannya.

Dalam hukum positif pembahasan tentang suap dan ratifikasi selalu dikaitkan antara pemberian dan janji kepada pegawai negeri. Hal ini bisa kita lihat dalam UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Dalam pasal 5 ayat (1) huruf a UU No 31/1999 jo UU No 20/2001, suap didefinisikan setiap orang yang memberi atau menjanjikan sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dengan maksud pegawai negeri atau penyelenggara negara tersebut berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya. 

Dalam buku saku memahami tindak pidana korupsi Memahami untuk Membasmi yang dikeluarkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dijelaskan bahwa cakupan suap adalah (1) setiap orang, (2) memberi sesuatu, (3) kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara, (4) karena atau berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya.

Menjadi anggota Polri adalah pekerjaan mulia, alangkah baiknya pekerjaan ini juga diawali dengan kebaikan dan semoga terus istiqomah dalam kebaikan hingga akhir. Tindakan yang dilakukan oleh Joe Khana Al-Ahmad tersebut merupakan tindakan yang dilakukan atas kemauannya sendiri. Di sisi lain, amat disayangkan Kepolisian harus kehilangan seorang anggotanya yang berakhlak mulia seperti beliau. 

Saya sendiri sebagai anggota Polri sangat mengimpikan suatu hari nanti Indonesia memiliki instansi Kepolisian yang semua anggotanya jujur, berwibawa dan berakhlak mulia sehingga dimanapun dia berada membawa berkah dan perasaan aman bagi masyarakatnya. Polri harus terus tumbuh menjadi lebih baik lagi.  
Continue..

Mathilda Batlayeri Jadi Nama Bandara

Bandara Mathilda Batlayeri, Saumlaki, MTB (Foto satumaluku.com)

Lima tahun yang lalu bertepatan tanggal 23 Maret 2010 saya pernah menulis kisah heroik Mathilda Batlayeri seorang Bhayangkari (Istri Polisi) dari AP II (Agen Polisi II) Adrianus Batlayeri yang gugur pada Rabu, 28 September 1953 dalam mempertahankan pos / asrama Polisi Kurau, Kabupaten Tanah Laut (Dahulu Kewedanaan Tanah Laut), Kalimantan Selatan bersama ketiga anaknya. Tulisan tersebut dapat dibaca di link berikut
Mathilda Batlayeri Pahlawan Bhayangkari
 
Perjuangan Bhayangkari Mathilda Batlayeri bersama 5 anggota Polisi
dalam mempertahankan Pos / Asrama Polisi Kurau

Pada saat itu, saya tidak menyangka bahwa tulisan tersebut akan menjadi inspirasi bagi masyarakat dan pemerintah Maluku untuk menjadi nama Mathilda Batlayeri sebagai nama Bandar Udara (Bandara) di Saumlaki, ibu kota Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB) yang telah dioperasikan pada 9 Mei 2014 yang lalu.

Monumen Mathilda Batlayeri di Tanah Laut, Kalsel
Selain monumen Bhayangkari yang ada di Kabupaten Tanah Laut (Tala), Kalimatan Selatan, monumen juga dibangun di Saumlaki, MTB yang diresmikan pada Agustus 2015 yang lalu. Bupati MTB, Bitto Temmar bahkan berinisiatif menulis kembali sejarah lengkap perjuangan Mathilda Batlayeri untuk dijadikan buku. Selain itu pemerintah Maluku juga berencana mengusulkan Mathilda Batlayeri menjadi pahlawan nasional.
 
Monumen Mathilda Batlayeri di Saumlaki, MTB (Foto Dharapost.com)

Saya turut merasa senang tulisan saya tersebut dapat berguna bagi masyarakat dan pemerintah Maluku. Guna menambah masukan akan sejarah perjuangan Mathilda Batlayeri di Kalimantan Selatan, pada tulisan ini saya tambahkan beberapa foto-foto dokumentasi yang dikumpulkan oleh Polda Kalimantan Selatan.

Semoga bermanfaat.

Pintu gerbang monumen Bhayangkari Teladan Mathilda Batlayeri di Kurau, Kab. Tanah Laut, Kalsel
Monumen Bhayangkari Teladan Mathilda Batlayeri di Kurau

Tiang kayu penanda tempat jasad Mathilda Batlayeri gugur

Tiang kayu penanda tempat jasad ketiga anak Mathilda yang gugur

Pesan Mathilda Batlayeri kepada para penerus bangsa

Makam Mathilda Batlayeri di Taman Makam Pahlawan Pelaihari, Kalsel


Makam ketiga anak Mathilda Batlayeri (Alex, Lodewijk & Max) di Taman Makam Pahlawan Pelaihari, Kalsel
   
Continue..