Selamat Datang

Dalam banyak kisah yang dibuat para pembuat film, sering ada dua wajah yang menggambarkan Polisi, yaitu Polisi Baik dan Polisi buruk. Polisi baik adalah mereka yang digambarkan bisa tampil dalam perannya sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat. Polisi buruk adalah mereka yang digambarkan tampil dalam perilaku menakutkan, bersikap mentang-mentang dan mata duitan (Akhlis Suryapati, Wartawan/ Seniman). figur Polisi yang diinginkan tentunya adalah Polisi Baik, sosok Polisi yang selalu menjadi impian dan harapan oleh semua orang. Melalui blog ini ITWASDA POLDA KALIMANTAN SELATAN menyajikan kumpulan kisah humanis Kepolisian dari berbagai sumber yang bisa menjadi teladan bagi Kepolisian Sendiri maupun masyarakat.
Tampilkan postingan dengan label Sosok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosok. Tampilkan semua postingan

Polwan dalam Misi Penyelamatan di Yaman

Persiapan berangkat Tim Penyelamat RI dari Jizan, Saudi Arabia menuju Al Hudaydah, Yaman

Pertikaian yang terjadi antara milisi Houthi dengan koalisi Saudi Arabia di Yaman pada tahun 2015 yang lalu, memaksa pemerintah Indonesia harus secepatnya mengevakuasi WNI di Yaman. Pemerintah Indonesia membentuk tim untuk menjalankan misi penyelamatan WNI di Yaman. Dalam misi tersebut Kemenlu meminta kepada Kapolri mengirimkan dua orang Polwan untuk ikut dalam misi untuk menangani serta melayani perempuan dan anak selama proses evakuasi berlangsung.

Dari sekian banyak nama Polwan, terpilih dua orang yaitu AKBP drg. Lisda Cancer, MBiotech dan Kompol Elya Susanti, SIK dari Baharkam. Berikut sekelumit pengalaman dua Polwan tersebut selama pelaksanaan tugas evakuasi WNI di Yaman.

Anak Kesayanganku Telah Pergi


Satu tahun sudah kepergian anakku, Rezi Windarto namanya, seorang Brimob Polri berpangkat Bharada yang bertugas di Jakarta. “Assalamualaikum Bu, do’akan aku, untuk kesuksesanku di kota orang”. Kata-kata itulah yang terakhir aku dengar langsung dari bibirnya sebelum berangkat tugas mengabdi kepada nusa dan bangsa.

Pada 14 November beberapa tahun yang lalu, aku menghadiri pelantikan anakku Rezi di Pusdik Brimob Watukosek. “Rezi Windarto, Satbrimob Metra Jaya”, Itulah yang aku dengar dari salah satu anggota Polisi yang membacakan penempatan pertama bagi polisi muda ini.

Awalnya aku merasa sedih karena tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan sebelumnya tapi Rezi selalu meyakinkan aku bahwa Dia akan selalu menyempatkan pulan setiap ada kesempatan. “Sudah Bu jangan sedih, masih Jakarta kan? Bukan ke bulan…!”. Rayu Rezi sambil memelukku manja. Aku pun tersenyum melihat dia yang semakin dewasa.

Suatu hari dia memberiku kabar bahwa dia mengikuti kegiatan bernama Expedisi NKRI. Tidak banyak aku tahu tentang kegiatan itu, yang kutahu Dia akan melaksanakan tugas. Aku hanya memintanya untuk selalu menjaga diri dan jangan sampai meninggalkan sholat.

Briptu Victor Penjaga Merah Putih di Perbatasan Papua

 Menjaga kedaulatan negara di perbatasan, tak cuma dilakukan TNI. Banyak kisah menarik yang juga dialami para anggota kepolisian. Seperti yang dilakukan Kepala Kepolisian Sub Sektor (Kapolsubsektor) Oksamol Briptu Victor Merani.

Beberapa waktu lalu, pengibaran bendera Papua Nugini di Kampung Tomka dan Kampung Autpahik mengejutkan Briptu Victor. Sebabnya, bendera itu berkibar masih di dalam wilayah Indonesia dekat perbatasan Papua Nugini.


Setelah mendengar itu, Victor langsung berkoordinasi dengan pemda dan pemimpin adat setempat. Diputuskan untuk berangkat ke lokasi bersama kepala distrik, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan tokoh perempuan untuk melihat secara langsung Kampung Tomka dan Kampung Autpahik.

Pak Harto Alumni Kepolisian


Tak banyak yang mengetahui bahwa Mantan Presiden Republik Indonesia, Soeharto, sebenarnya pernah menjadi Polisi. Bahkan Karier beliau sebetulnya justru dimulai dari Polisi. Lebih dari itu, sesuai dengan pengakuan Pak Harto sendiri dalam otobiografinya, "Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya," Beliau dapat lulus menjadi PETA karena sebelumnya sudah lebih dahulu memperoleh dasar-dasar kemiliteran sewaktu menjadi Polisi. Dengan demikian secara tidak langsung jajaran Polisi sesungguhnya ikut berperan mengantarkan salah satu anggota terbaik dalam mengembangkan karier dan menjalankan kehidupan sampai jenjang presiden. 

Kisah Nyata Polisi Menilang Istrinya



Dalam video yang diunggah di YouTube tanggal 17 Mei 2014 mengisahkan tentang seorang Polisi yang menilang seorang wanita pengendara sepeda motor matic yang ternyata adalah istrinya sendiri. Berikut Videonya :

Tanpa Kepolisian Tiada Hari Pahlawan


“Tanpa peran M. Jasin dan Pasukan Polisi Istimewa tidak akan ada peristiwa 10 November.”

Demikian pernyataan Jenderal (TNI) Moehammad Wahyu Soedarto, seorang tokoh yang terlibat dalam peristiwa heroik 10 November 1945. 10 November 1945 diabadikan dalam sejarah bangsa dan diperingati sebagai Hari Pahlawan. Peristiwa ini terjadi di Surabaya dan di kota Pahlawan ini Polisi pernah melaksanakan “Proklamasi Polisi” Dalam ejaan lama yang berbunyi :

“Oentoek bersatoe dengan rakjat dalam perdjoeangan mempertahankan Proklamasi 17 Agoestoes 1945, dengan ini menjatakan Polisi sebagai Polisi Repoeblik Indonesia”.

Soerabaja, 21 Agoestoes 1945
Atas Nama Seloeroeh Warga Polisi
Moehammad Jasin – Inspektoer Polisi Kelas I

Proklamasi Polisi itu merupakan suatu tekad anggota Polisi untuk berjuang melawan tentara Jepang yang masih bersenjata lengkap, walaupun sudah menyerah. Proklamasi itu juga bertujuan untuk meyakinkan rakyat bahwa Polisi adalah aparat negara yang setia kepada Republik Indonesia yang berjuang bersama rakyat dan bukanlah alat penjajah. Ketika menjadi insiden bendera, 19 september 1945, Polisi Pimpinan Moehammad Jasin bergerak cepat mereka menyatu dengan rakyat. 

Polisi yang "disegani" Bukan "ditakuti"


Sama halnya dengan guru dalam pandangan siswa, ada yang didambakan kehadirannya dan ada guru yang sangat tak diharapkan kedatangannya. Guru yang didambakan biasanya guru yang disegani oleh para siswa.

Begitu pula Polisi dalam pandangan masyarakat terutama pengguna jalan. Kita sebagai pengguna jalan cenderung "takut" pada Polisi bila melanggar aturan.

Tapi yang saya temukan faktanya, ada seorang Polisi yang bukan 'Plantas' sangat disegani para pengguna jalan yang melewati depan pasar Induk Cibitung, Bekasi. "Pak Putu" nama yang sangat familiar di telinga supir angkot. Beliau benar-benar turun ke jalan untuk menertibkan jalan walau bukan Polantas. Sikapnya yang tegas terhadap pengguna jalan yang melanggar lalu lintas sangat berbeda dengan kebanyakan Polisi yang saya jumpai. Pernah suatu ketika dia mengusap kepala pelajar SMA yang tidak menggunakan helm. Yang lebih ekstrim lagi dia pernah memegangi kemudi sebuah motor yang memaksa melaju padahal sedang ditahan untuk memberikan kesempatan pada lajur lainnya. Angkot pun tak ada yang "ngetem" bila dia ada disana. ya... teman-teman Pak Putu yang bertugas di depan Pasar Induk pun bertindak hampir sama. Kada ada supir kendaraan besar yang mencoba memberikan sejumlah uang karena telah melanggar ketertiban, tapi Pak Polisi menolaknya.

Semoga "Pak Polisi" lainnya bisa meneladani sikap Pak Polisi di atas, bahwa menjadi yang disegani jauh lebih indah dan mulia.

Oleh Tati Wartati

diambil dari situs : http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2012/01/15/polisi-yang-disegani-bukan-ditakuti-430670.html

Bhayangkari Pendiri Paud dan TK


Berawal dari mengajar kursus anak-anak, ibu Eli (37 th) istri dari Bripka Pol Saifudin (BA Polsek Telanaipura), mengawali kariernya sebagai pendiri  sekolah Paud dan TK Junior di Puri Masurai Jambi Selatan.

Eli terlihat sedang mengajar anak-anak di tempatnya mengajar, terlihat suasana dan ruangan yang dibikin sedemikian rupa untuk membuat suasana belajar dan mengajar untuk anak-anak usia dini. Disana terdapat gambar-gambar kartun, poster-poster abjad dan angka serta perlengkapan mengajar lainnya. Tidak lupa juga terdapat rak buku buat anak-anak mengumpulkan buku hasil pekerjaannya hari itu.

Pergi Pagi Pulang Petang (P4)

Pukul 04.00, saat orang masih tidur lelap dipagi buta, lelaki asal Jogjakarta ini harus sudah bangun dari tidurnya dan bersiap-siap berangkat kerja ke Jakarta.

Inilah salah satu suka duka anggota Polisi yang bertugas di Polda Metro Jaya (PMJ). Seperti yang dilakoni Aiptu M. Ikhsan. Bapak dua anak yang bertugas di bagian verifikasi data Seksi BPKB Dit Lantas PMJ. Ikhsan harus sudah berangkat ke kantor di pagi buta, dimana sebagian masyarakat masih menikmati hangatnya selimut.

Setiap hari berangkat jam 03.30 atau paling lambat jam 04.00 WIB. Maklum ikhsan tinggal di Perumahan Tambun, Bekasi. Supaya tidak telat apel pagi, maka harus berangkat ke kantor pada pagi buta.

Penjahat Bersenjata Hingga Bajak Laut


Keberhasilan jajaran Kepolisian Polda Sumatera Utara dalam membekuk komplotan penjahat bersenjata yang melakukan penyanderaan di Perairan Selat Malaka Oktober 2006 silam tidak lepas dari peran Iwan Muri yang memimpin langsung operasi pembebasan awak kapal Sanlay-X.

Operasi pembebasan tiga orang sandera tersebut dilakukan tim gabungan yang terdiri dari jajaran satuan 1 Reskrim Polda Sumut, Direktorat Polisi Perairan dan Detasemen Khusus 88 Antiteror.

Rumiah Kapolda Wanita Pertama

Berkat perjuangan Kartini banyak kaum perempuan Indonesia yang kini semakin maju dan memperoleh banyak kesempatan untuk menjadi pemimpin. Pengangkatan Polwan Brigjen Pol Rumiah sebagai Kapolda Wanita pertama Banten adalah bukti bahwa perjuangan kartini tidaklah sia-sia. Setelah ada Kapolwil, Kapolres dan Kapolsek di Kepolisian Republik Indonesia juga ada Kapolda Wanita.

Zaman telah berubah, tidak ada lagi persoalan gender untuk sebuah profesionalitas. Dalam konteks kebangsaan, kaum perempuan menyadari posisi dan fungsinya sebagai garda bangsa. Di jajaran Kepolisian Wanita, para Srikandi dengan tegas dan kelembutan fitrahnya, berupaya menjaga amanah dalam mengayomi masyarakat. Etos kerja keras bersemangat emansipasi inilah yang menjadi Kapolda Banten, Brigadir Jenderal Polisi (Brigjen Pol) Rumiah dijuluki 'Kartini baru abat Millenium'. Pasalnya dialah perempuan pertama yang sejak 14 Januari 2008 menjabat di posisi sangat terhormat di Kepolisian negeri ini.

Pengalaman Dengan Polisi Solo

Ada seorang kaskuser dengan ID nganjux tertanggal 23-04-2011 pkl:00:24 yang menulis pengalamannya dengan Polisi Solo. Tulisannya menarik apalagi berdasarkan pengalaman pribadi semoga bisa menjadi inspirasi dan teladan bagi rekan-rekan bhayangkara lainnya dalam melayani, melindungi & mengayomi dengan sepenuh hati. Begini tulisannya :

Truck Brimob di Tengah Tsunami

Gempa bumi disertai gelombang pasang (Tsunami) yang terjadi di penghujung tahun 2004 silam telah menyapu beberapa wilayah lepas pantai di Indonesia (Aceh dan Sumatera Utara), Sri langka, Bangladesh, Malaysia, Maladewa dan Thailand. Korban paling banyak tentunya diderita oleh Indonesia

Di tengah terjangan tsunami tersebut ada kisah heroik pengorbanan pasukan Brimob untuk menyelamatkan warga di tengah tsunami. Cerita ini penulis dengar langsung dari anggota brimob saat ngobrol santai di lapangan tembak Brimob Polda Kalsel. Sayangnya penulis tidak sempat bertanya siapa nama beliau.

Jiwa Ragaku Untuk Kemanusiaan


Penugasan ke daerah konflik bukanlah penugasan yang diperebutkan banyak orang, bukan pula penugasan yang saat berangkat dihantarkan dengan kalungan bunga dan disambut karpet merah saat pulang serta guyuran materi sebagai reward. (Mengenang Briptu Anumerta Eko Afriansyah, Amd Kep yg telah gugur di daerah konflik)

Penugasan ini sepi dari publikasi, namun merupakan tugas rutin Korps Brimob Polri dalam menanggulangi kejahatan berkadar tinggi dan mengandung risiko tinggi demi mempertahankan dan memelihara Kamtibmas serta keutuhan NKRI. Satuan Tugas Operasi (Satgas Ops) Aman Matoa 2011 di bawah pimpinan Kasatgas Kombes Pol. Drs. Leo Bana Lubis mengirimkan personelnya ke Kabupaten Puncak Jaya dan Kabupaten Paniai yang merupakan kantung-kantung kelompok separatis TPN/OPM.

Sebagai tenaga medik Bripda Eko Afriansyah bersama AKP Dr. Sulistyo Purbo, Iptu dr Sigit Sutanto dan briptu Sugiyono yang mengemban fungsi Dukkeslap (dukungan kesehatan lapangan) ditugaskan mendampingi pasukan di wilayah Kabupaten Puncak Jaya. Sebagai tenaga kesehatan yang telah disumpah untuk mengabdi demi kemanusiaan, di daerah konflik tugas mereka tidak terbatas hanya melayani anggota Brimob, namun juga Polisi umum serta masyarakat sipil yang membutuhkan pertolongan.

Allah SWT Menuntun Antasena 509



ALLAH SWT menyertai kami, begitulah yang diyakini Kompol Herry Nooryanto, komandan kapal patroli Dit Polair Baharkam Polri  Antasena 509 beserta awak kapalnya saat kapal tersebut berhasil bersandar di Kepulauan Mentawai. 

Gempa bumi yang disusul tsunami pada 25 Oktober 2010 yang lalu telah memporak-porandakan Kepulauan mentawai, tangis dan air mata keputusasaan mereka yang menjadi korban bencana tersebut seakan terus menari-nari di matanya ungkap Hery Nooryanto yang sepekan kemudian kembali dari Mentawai seusai membawa rombongan Polda Sumbar dalam sebuah misi kemanusiaan ke Mentawai.

Ketika Kita Harus Menghargai Polisi

“Saya tidak punya saudara Polisi, bukan pula anak Polisi apalagi seorang Polisi.. Saya hanya ingin melihat sisi lain dari Polisi..”

Beberapa hari yang lalu saya berencana men
gadakan buka puasa bareng dengan teman-teman yang sudah cukup lama tidak ketemu. Meskipun saya “tidak berpuasa”, tetapi tentu tidak ada salahnya ikut dalam acara tersebut.

Berangkat dari kantor menuju lokasi bukber (buka bersama red.) yang berlokasi di Jl. Thamrin tentu harus dilakukan dengan bergegas, karena seperti biasa, Jakarta pasti dihinggapi kemacetan yang luar biasa. Apalagi di bulan Ramadhan, tentu semua orang ingin pulang cepat, semua orang ingin berbuka puasa dirumah.

Hari itu Jakarta dilanda hujan yang lumayan deras, dan hal ini tentu saja membuat Jakarta semakin macet. Dimana-mana terjadi stagnasi kendaraan. Tentu bagi orang yang berpuasa ini merupakan tantangan berat. Disamping lapar dan haus, kemacetan yang luar biasa membuat pikiran sumpek ditambah kekhawatiran (kepasrahan lebih tepatnya) tidak bisa berbuka bersama keluarga yang disayangi.

Integritas seorang Polisi

Memandang dari kaca jendela bus kota, saya melihat sesosok manusia yang dari uniformnya sudah sangat dikenal di negara ini sedang sibuk dan tidak kenal lelah tetap meniup peluitnya untuk mengatur kendaraan yang sudah tidak terkendali. Ya benar, manusia itu adalah seorang Polisi Lalu Lintas.

Hati saya langsung terenyuh melihat kegigihan beliau untuk tetap stay dibawah hujan yang sudah mulai reda demi lancarnya perjalanan orang-orang yang ingin melanjutkan perjalanan menuju tujuan masing-masing. Entah kenapa saya meyakini bahwa beliau juga seorang muslim, yang kemungkinan besar juga sedang berpuasa. Ketika orang duduk enak didalam mobil yang ber-AC ditemani dengan ta’jil yang banyak, Pak Polisi tersebut tetap sabar mengatur lalu lintas yang terlanjur macet. Jika beliau sedang berpuasa, saya yakin beliau juga merasakan lapar dan haus seperti orang berpuasa lainnya. Saya juga meyakini, Pak Polisi itu juga tentu ingin berbuka puasa dirumah bersama isteri dan anak yang disayangi.

Segala asap yang sudah bercampur baur rela untuk dihirup karena tidak memungkinkan memakai masker sembari meniup peluit/semprit. Celana yang sudah agak basah tentu saja bisa membuat masuk angin apalagi disebabkan oleh perut kosong karena puasa. Di sisi lain, Asuransi kesehatan yang diberikan negara tentu sangat tidak cukup untuk mengcover apabila beliau sakit. Apalagi mengurus asuransi untuk pegawai yang berbelit-belit di Rumah Sakit dan kompensasi yang tidak maksimal (karena pemegang Askes seringkali dianggap sebagai “pasien anak tiri”) tentu tidak sebanding dengan pengorbanan yang diberikan oleh beliau.

Objektivitas

Melihat semua itu saya berfikir, bahwa ada Polisi-Polisi lain yang rela tidak berlebaran demi mengatur lancarnya arus mudik. Ada Polisi-Polisi lain yang melihat orang lain berlebaran, sementara dirinya masih di jalan dan meninggalkan anak isteri yang berlebaran tanpa kehadiran mereka.

Saya memang termasuk orang yang ikut melakukan kritik keras terhadap Polisi. Apalagi melihat berita-berita yang ditayangkan di berbagai media. Tetapi saya juga harus menjaga objektivitas saya dengan mengatakan salut kepada Polisi-Polisi yang masih memiliki integritas dan loyalitas tidak saja kepada institusi dan negara, tetapi juga kepada Tuhan.

Terlepas dari kejadian-kejadian yang tidak enak yang mungkin dialami oleh saya dan teman-teman dengan Polisi Lalu Lintas, saya mengapresiasi loyalitas Pak Polisi itu. Dan ketika menyadari ini semua, saya meyakini bahwa “Harapan untuk menjadikan Polisi sebagai institusi yang berwibawa itu masih ada.” Saya yakin bahwa Kepolisian mampu untuk berwibawa karena bersih, berwibawa karena Jujur dan berwibawa karena Tegas!!

Ketika saya berhasil melewati kemacetan lalu lintas, dan bertemu dengan teman-teman sambil berbuka puasa menikmati hidangan yang menggugah selera, dari kaca gedung yang tinggi itu, saya melihat kebawah dimana ada Pak Polisi yang lain masih sibuk mengatur lalu lintas.
Berbuka duluan ya Pak… (padahal ga puasa..)

Salam hangat buat Pak Polisi di perempatan Palmerah dan Sarinah yang saya lihat pada 24 Agustus 2010 antara jam 16.00 - 18.30 WIB.

Regards

-Ricky Saragih-


SUMBER :

http://sosbud.kompasiana.com/2010/08/26/ketika-kita-harus-menghargai-polisi/


Ditinggal Tugas, Meski akan Melahirkan


Sungguh anugerah tak ternilai didapatkan Ratih Wijaya, salah satu Bhayangkari Korbrimob Polri yang baru saja melahirkan anak kedua berjenis kelamin perempuan tanpa hambatan. Namun dibalik rasa bahagia, dirinya harus melahirkan tanpa didampingi oleh suami yang beberapa jam sebelumnya harus berangkat tugas dalam misi perdamaian PBB di Sudan.

Ditinggal dalam tugas sudah dialaminya sejak belum resmi menjadi isteri Brimob. Selama pacaran saja sudah sering ditinggal tugas ke Aceh, Poso bahkan mau nikahpun harus ditinggal tugas pengawalan selama berbulan-bulan. Itulah resiko isteri seorang anggota Brimob pasti sering ditinggal tugas. Hal ini sudah diketahui karena kebetulan ayahnya juga mantan anggota Brimob.

Ratih Wijaya SH, istri Briptu Mohamad Ramadan ini sudah mengetahui akan keberangkatan suaminya dalam penugasan FPU I pengganti sejak usia kandungannya enam bulan. Bahkan sebelum berangkat tugas untuk FPU I pengganti, suaminya sudah bergabung dalam FPU I bahkan sudah mengikuti pelatihan karena saat itu Ratih sedang hamil anak yang pertama maka suaminya hanya sebagai cadangan dan akhirnya tidak berangkat.

Sedangkan pada FPU I pengganti, kebetulan Ratih juga sedang hamil anak yang kedua. Karena merasa sudah hamil besar maka untuk sementara waktu dia ke mertua sehingga perlu banyak pengawasan. Namun karena pada FPU pengganti ini persiapannya cukup singkat termasuk waktu latihan pra ops, maka menjelang keberangkatan dirinya diminta suami pulang ke rumah agar dapat membantu mencarikan barang untuk keperluan yang dibawa tugas nanti.

Akhirnya dengan perut besarnya dia nekat pergi ke pasar untuk membeli barang-barang yang dibutuhkan suaminya dengan naik ojeg dan tukang ojeg tersebut juga diminta bantuannya membawa barang-barang yang dibeli. Hal ini dilakukan karena suaminya pada saat itu masih sibuk dengan latihan.

Mengingat semangat suami untuk berangkat tugas, dirinya hanya berpesan kepada suami, “Kalau sudah niat berangkat agar anak isteri jangan dijadikan beban” tuturnya. Terus terang dirinya merelakan suaminya berangkat tugas FPU I pengganti meski sedang hamil besar karena dilihat dari sisi pengalaman tugas mungkin bisa membantu karier meskipun saat melepas suami pergi tugas sudah merasakan mulas hendak melahirkan.

Sebetulnya dengan keberangkatan ini dirinya juga sempat berpikir kalau ditinggal nantinya bagaimana?. Tapi oleh ibunya yang juga seorang isteri pasukan menasehati bahwa kalau pasukan itu hanya dari segi kariernya dia bisa maju,”Jadi apa yang membuat suami maju dalam berkarir harus didukung”, itulah pesannya.


SUMBER :
Majalah teratai
Edisi khusus – 14 Nopember 2009

Pengakuan Polisi di Bulan Ramadhan


Bulan Ramadhan bulan penuh pengampunan dan makna kasih sayang. Tak mudah mendapatkan keberkahan di bulan suci ini. Sebuah kesucian hati dikala kita sebulan penuh menjaga hawa nafsu. Begitu yang dilakukan Polisi lalu lintas (Polantas) satu ini. Sebut saja Sersan Suyono.

Baginya menjadi polisi sebenarnya bukan cita-citanya. Namun apa daya, kebutuhan ekonomi keluarga yang akhirnya memilih untuk mengabdi pada negara. Sudah tujuh tahun ia dinas di kepolisian. Sempat ditugaskan berjaga-jaga menangani GAM di Aceh. Kini ia harus bertugas sebagai pengatur lalu lintas (Polantas). Ini pun sekali lagi bukan pilihannya.

Bagi kebanyakan polisi tugas di jalan adalah kerja berjuta suka. Dalam sehari Rp 500 ribu hingga Rp 1.000. 000 dapat masuk dalam kocek celana. Lain hal dengan polisi muda ini. Untuk mengambil uang tilang saja. Suyono harus mengerutkan dahi.

“Kenapa sih, ketika pengguna jalan bersalah selalu menyisipkan uang kepada polisi. Padahal belum tentu kami mau,” aku pria berumur 30 tahun ini. “Hari ini saya baru saja menghadap atasan untuk berharap dapat pindah tugas di bagian lain, tapi jawabnya justru malah cemooh, ”ucapnya. Menghadapi atasan bukan sekali ini saja.“ Ini sudah ketiga kalinya pak, ”ceritanya kembali.

Ironisnya ketika surat tilang terkumpul, seharusnya Ia diberikan reward sebesar Rp 2500, - hingga Rp 10. 000 (tergantung kendaraannya). “Tapi sudah 7 tahun bekerja, saya tidak pernah mendapatkan, ”ucapnya pilu. Suyono merasa terpukul dengan penderitaannya.

Sebagai ganti upaya sampingan ia sendiri selalu mengeluarkan jurus kemahirannya dengan memudahkan jasa pembuatan surat-surat kendaraaan. Sempat ia mendapatkan hasil uang tilang. Namun apa yang terjadi? Ia dan isteri merasa kebingungan. Lantas Ia lari ke sebuah masjid dan menanyakan kepada seorang ustadz. Tapi apa yang terjadi? Ustadz dengan mudah menjawab bahwa uang tersebut boleh diambil asal yang memberi ikhlas. Bapak 3 orang anak ini semakin bingung. Bagaimana yang memberikan uang tersebut terlihat ikhlas?

Seorang Suyono adalah figur Polisi yang taat pada agama. Anda pastinya akan mengatakan semua polisi tak lebih dari uang dan uang. Tapi polisi bertubuh tegap ini selain disiplin tinggi, ia juga sangat mempertimbangkan mana yang hak dan mana yang bathil. Siapapun tak mengira jika pengabdian pada negara digunakan untuk keluarga. Tapi di balik itu semua, ada keniscayaan dibenaknya. Suyono tak lebih dari korban keburukan citra polisi. Ia tidak hanya di gaji kurang dari 1, 5 juta (bruto) perbulan.

Dalam urusan asuransi kesehatan saja, kata Suyuno yang saat itu bertugas di Jakarta, instituisi pemerintahan/kedinasan (Polri) ternyata tidak memprioritaskan karyawannya. Bahkan rumah dinas yang ditempatinya dihargai Rp 15 juta oleh seniornya. “Jadi setiap anggota yang menempati rumah tersebut jika dijual selalu berlipat-lipat harganya, ”jelasnya. Dan Suyonopun harus berjibaku membayar dengan memotong gaji Rp 500 tiap bulannya.

Kini upaya Suyono terakhir, tetap bersikeras untuk pindah dari jabatan Polantas, pahitnya ia harus keluar dari Polri. Tapi untuk urusan keluar, nyatanya sangat sulit, karena terbentur dengan intervensi para atasan.

Di penghujung cerita ia memberitahu lahan-lahan empuk Polantas untuk mencari nafkah yang tidak halal di Jakarta. “Bapak lihat di sana ada berapa petugas yang mengatur lalu lintas. Padahal di sini bukan lokasi tempat mereka bertugas. “Bagi mereka Ramadhan bulan penuh berkah untuk mencari uang lebaran, ”tandasnya penuh arti. Sambil bersalaman, ia bergegas pergi. “Maaf pak, saya akan bertugas kembali”.

Mudah-mudahan, polisi-polisi lain seperti Pak Suyono ini cukup banyak, sehingga citra polisi yang masih saja terpuruk di mata masyarakat bisa meningkat postif. Mudah-mudahan Ramadhan kali ini membawa kebaikan bagi mereka. Amien.

Sumber : EraMuslim
Oleh : Abumiftah
30 September 2007

“Pekerjaanku mencintaiku lebih dulu daripada kamu”


“Pekerjaanku mencintaiku lebih dulu daripada kamu”, itulah kata-kata yang terpaksa Eddy ucapkan kepada pacarnya ketika tugas memanggilnya. Briptu Edy adalah seorang anggota Polri yang berdinas di Direktorat Reskrim.

Suatu ketika dia dan pacarnya sedang asyik nonton film di bioskop. Namun, di tengah kegembiraan mereka, hp berbunyi dan mengharuskan Eddy segera ke kantor. Jarang-jarang mereka bisa sempat jalan berdua di tegah kesibukan tugas, kali inipun di harus ditinggal pergi lagi, tentu saja di relung hatinya yang terdalam ada sedikit rasa tidak rela. Pacarnyapun membujuk Eddy agar jangan pergi dulu untuk menyelesaikan film dan mengantarkannya pulang.

Namun, mau bagaimana lagi. Tugas sudah memanggil, apalagi Eddy bertugas di Buser dimana harus selalu berurusan dengan penjahat. Penjahat dalam melakukan aksinya mana ada kata menunggu, menanti Polisi tiba. Kalau bisa mereka setelah melancarkan aksinya segera pergi jauh. Maka Polisi harus berlomba dengan waktu, mengejar tiap kejadian.

Dikala pacarnya membujuk agar menunda pergi, diapun tidak bisa. “Kau harus paham, pacarmu ini adalah seorang Polisi sewaktu-waktu bisa saja dipanggil tugas. Seandainya saja pacarmu ini adalah tukang jahit maka akan selalu duduk di meja dan berada di sisimu”. Akhirnya diapun merelakan kekasihnya pergi melaksanakan tugas dan dia harus pulang dengan ojek. Begitulah keadaannya, menjadi pacar atau istri seorang Polisi harus bisa mengerti keadaan seorang Polisi dan siap di tinggal tugas.

Pilot Si Capung Besi


Murah senyum adalah kesan pertama yang tertangkap di awal perjumpaan dengan Fodha Anggara. Pilot capung besi berpangkat Iptu ini mempunyai dua sertifikat pilot yaitu pesawat tetap dan helicopter. Pria kelahiran April 1977 ini masih terhitung sebagai anggota Polisi Udara Mabes Polri. Ia tengah berada di Serambi Mekkah untuk menjalankan tugasnya selama dua bulan terhitung sejak bulan Mei 2009. Alumni pendidikan Perwira Polisi Sumber Sarjana (PPSS) tahun 2003 ini sudah dua kali pertugas di Polda NAD kira-kira setahun yang lalu ia juga bertugas di Serambi Mekah ini.

Selama bertugas sebagai pilot, sulung dari tiga bersaudara ini telah berkunjung ke banyak daerah kejadian menegangkan pernah ia alami pada saat harus menerbangkan helikopter dalam kondisi float (kaki helicopter) kurang pressure (tekanan) dari Gorontalo menuju Ternate melintasi lautan. Dalam penerbangan sipil, jika berada dalam kondisi seperti itu helikopter tidak diijinkan melakukan penerbangan. Karena float berfungsi untuk pendaratan darurat di air / laut. Dan jika float kurang tekanan kemudian helikopter berada dalam kondisi darurat pilot hanya memiliki waktu beberapa detik untuk menyelamatkan diri dari pesawat. Iptu Fodha berharap tidak menghadapi lagi kondisi yang cukup menaikkan hormon adrenalin.

Selama bertugas harus jauh dari keluarga? Hal itu sudah pasti. Dibalik senyuman yang menghias bibirnya ada hasrat yang besar untuk bertemu dengan anak dan istrinya yang tengah mengandung anak kedua mereka.
Demi tugas ia harus menunda rencananya untuk mengantarkan sang isteri memeriksakan kehamilannya hingga masa dinasnya berakhir nanti.

Pengalaman menarik dan tak terlupakan adalah setelah pernikahannya yang digelar pada tanggal 20 Desermber 2004. Tepat lima belas hari setelah pernikahnnya dilangsungkan, ia harus mengakhiri masa bulan madunya karena bencana tsunami di Serambi Mekkah. Kejadian itu mengharuskannya ke pangkalan udara di Pondok Cabe untuk memastikan agar barang-barang bantuan dapat terkirim ke tempat tujuan.

“Bagi saya menjadi pilot itu harus tanggap, cepat, tepat, serta rapi”, Ucapnya mengakhiri perbincangan.


SUMBER :
Reporter Ribut
Fotografer khairul, hasbi.
Majalah Machdum Sakti
Nomor 2 Tahun XII Juni 2009.