FIGUR POLISI

Kumpulan Kisah Mengenai Kepolisian

Polwan dalam Misi Penyelamatan di Yaman

Persiapan berangkat Tim Penyelamat RI dari Jizan, Saudi Arabia menuju Al Hudaydah, Yaman

Pertikaian yang terjadi antara milisi Houthi dengan koalisi Saudi Arabia di Yaman pada tahun 2015 yang lalu, memaksa pemerintah Indonesia harus secepatnya mengevakuasi WNI di Yaman. Pemerintah Indonesia membentuk tim untuk menjalankan misi penyelamatan WNI di Yaman. Dalam misi tersebut Kemenlu meminta kepada Kapolri mengirimkan dua orang Polwan untuk ikut dalam misi untuk menangani serta melayani perempuan dan anak selama proses evakuasi berlangsung.

Dari sekian banyak nama Polwan, terpilih dua orang yaitu AKBP drg. Lisda Cancer, MBiotech dan Kompol Elya Susanti, SIK dari Baharkam. Berikut sekelumit pengalaman dua Polwan tersebut selama pelaksanaan tugas evakuasi WNI di Yaman.

Yaman mencekam, terlebih pada malam hari karena setiap malam terdengan suara tembakan yang sesekali diselingi suara ledakan Bom. Tak kalah mencekam ketika hari Sabtu, 11 April 2015 koalisi Saudi Arabia memborbardir Kota Al Hudaydah dengan bom yang berjarak 2 Km dari safe house (penampungan) WNI.Syukurlah safe house tidak mengalami kerusakan, hanya suara dentuman dan getaran yang dasyat dirasakan.

Dari sekian banyak peristiwa yang dialami tim penyelamat, AKBP drg. Lisda menceritakan kisah menegangkan ketika "disandera" milisi Houthi karena kedapatan membawa body vest (rompi anti peluru).

Polwan AKBP drg. Lisda memakai abaya pada misi penyelamatan di Yaman

Pada hari senin, 6 April 2015 pukul 08.00 waktu setempat (WS), tim penyelamat menuju Al Hudaydah, Yaman dari Jizan, Saudi Arabia melalui jalur darat setelah dilepas oleh Dubes RI untuk Yaman bapak Wajid Fauzi yang sudah berada di Jizan, Konjen Jeddah, Athan, dan Atpol. 

Sekitar pukul 10 WS, setelah melalui beberapa check point, kami sampai di perbatasan keluar Saudi Arabida di Thawal dengan aman. Setelah mulai memasuki perbatasan wilayah Yaman, banyak tentara bersenjata laras panjang berjaga-jaga di perbatasan. Selain petugas imigrasi, perbatasan ini dijaga ketat oleh tentara Houthi dan Kabilah. 

Selanjutnya tim memasuki tempat pemeriksaan dokumen dan barang bawaan, namun ditengah pemeriksaan mereka mendapati banyak obat-obatan dan body vest, barang-barang tersebut tidak diizinkan dibawa. Upaya negosiasi dan diplomasipun dilakukan, namun petugas imigrasi dan tentara Houthi tetap tidak mengizinkannya dibawa. Karena belum ada kata sepakat, tim diminta untuk bernegosiasi dengan pimpinan mereka di Kota Harard, kurang lebih 2 Km dari perbatasan.

Sesampainya di Harard,  tim bernegosiasi di sebuah kamar hotel dengan pimpinan Houthi yang menguasai wilayah tersebut dengan penjagaan ketat tentara Houthi dan kabilah lengkap dengan senjata laras panjang, baik di luar maupun di lobby hotel bahkan di dalam kamar kami melakukan negosiasi. Meskipun demikian tim penyelamat dari Indonesia diperlakukan dengan baik sebagai tamu.

Suasana salah satu check point di Perjalanan Yaman
Sekitar dua jam bernegosiasi, mereka hanya memperbolehkan kami membawa obat-obatan, namun tidak dengan body vest. Mereka berkata tim penyelamat tidak memerlukan body vest, mereka menjamin keamanan dan keselamatan tim serta WNI yang akan dievakuasi selama di Yaman.

Kalo tetap memaksa ingin membawa body vest, mereka menyarankan agar perwakilan KBRI untuk bernegosiasi dengan pimpinan mereka yang lebih tinggi dan tim negosiasi tidak boleh meninggalkan hotel selama pertemuan belum terlaksana kemudian diberikan 3 kunci kamar. Saat itu tim sadar mereka sedang "tersandera", seketika itu tim berdiskusi dan bernegosiasi dan akhirnya harus merelakan 12 body vest (salah satunya milik pribadi KBP Krishna Murti) disita di perbatasan.

Akhirnya tentara Houthi membebaskam tim penyelamat untuk meluncur ke Kota Al Hudaydah namun ketegangan tidak berakhir di sana. Diperkirakan perjalanan akan memakan waktu 3 jam  dimana tim tiba di tujuan pukul 5 sore namun dalam perjalanan banyak sekali check point yang harus dilewati sehingga perjalanan menjadi terhambat. hari mulai gelap, sementara perjalanan masih tersendat apalagi baku tembak biasanya terjadi mulai pukul 7 malam sampai pukul 7 pagi membuat suasana makin mencekam.

Menerima TKI di Safe House dan membantu melengkapi dokumen
Selama perjalanan melewati bukit berbatu, banyak melihat tank tentara, baik di bawah maupun di atas bukit dengan posisi siap tembak. Namun Alhamdulilah setelah melalui belasan check point, bersamaan waktu adzan Magrib kami sampai di penginapan dengan selamat. Alhamdulillah 10 am yang menegangkan selama perjalanan dari Jidan-Arab Saudi ke Al Hudaydah, Yaman dapat kami lalui dengan selamat.

Sumber :
Majalah Warta (Kedokteran kepolisian dan Kesehatan)
edisi 98 Tahun 2015.
Continue..

Lulus dengan Sogok, Polisi Ini Akhirnya Melepas Seragamnya


“Pekerjaan yang kita dapatkan dengan cara yang haram (sogok/suap), tidak akan pernah membawa berkah, bahkan bisa membawa kita kepada kelalaian dan kemaksiatan. 

Karena cinta Allah kepada saya. Allah beri hidayah tuk meninggalkan seragam yang saya dapat dengan cara tidak halal ini., dan kini Allah menyibukkan saya dalam perkara agama dan dakwah. Terimakasih untuk Hidayah yang manis ini”

Tulisan di atas diambil dari akun instagram, bernama Joe Khana Al-Ahmad. Dari akun instagramnya, diketahui bahwa Joe Khana Al-Ahmad merupakan salah seorang mantan anggota Polisi Aceh. Beliau berhenti menjadi anggota Polri karena beliau mendapatkan pekerjaannya tersebut dengan cara yang haram (sogok/suap).

Menjadi anggota Polisi adalah pekerjaan mulia, namun apabila menjadi anggota Polri diawali dengan sogok / suap maka ini jelas-jelas telah melanggar aturan baik dari sudut pandang agama maupun dari segi hukum positif yang berlaku di Indonesia.

Dalam pandangan Islam, praktik suap / sogok tidak dibenarkan. Beberapa dalil dijadikan landasan hukum ini, salah satunya ayat dalam QS. al-Baqarah: 188). “Dan janganlah sebagian kamu memakan sebagian harta sebagian yang lain diantara kamu dengan jalan batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim supaya kamu dapat memakan sebahagian dari pada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” 

Nabi Muhamad SAW juga sudah menegaskan dalam hadisnya, “Orang yang menyogok dan orang yang disogok, masuk neraka. (HR Bukhari).” 

Juga hadits dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat/mengutuk orang yang menyuap, yang menerima suap dan orang yang menghubungkan keduanya.” [HR. Ahmad dalam bab Musnad Anshar radhiyallahu ‘anhum] 

Dalam pandangan Islam, pekerjaan yang diawali dengan suap akan selalu mendapatkan gaji haram lantaran diawali dengan suap. Ini dikarenakan ada keterkaitan sebab dan akibat antara risywah (suap) dan gaji. Bayangkan saat orang tua atau keluarga menyogok agar anaknya menjadi Polisi maka maka orang tua tersebut telah menjerumuskan dirinya sendiri dan anaknya keneraka. Gaji yang diterima anaknya tersebut merupakan gaji haram untuk dimakan. Tidak cukup sampai di situ, pada saat dia mulai membangun rumah tangganya sendiri suatu hari nanti maka dia akan memberi makan anak dan istrinya dengan uang haram tersebut. 

Selain dari sudut pandang agama, dalam pandangan hukum positif di Indonesiapun sogok / suap juga tidak dibenarkan dan dapat dihukum pidana, baik orang yang menyogok, maupun yang disogok serta orang yang berkaitan dengannya.

Dalam hukum positif pembahasan tentang suap dan ratifikasi selalu dikaitkan antara pemberian dan janji kepada pegawai negeri. Hal ini bisa kita lihat dalam UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Dalam pasal 5 ayat (1) huruf a UU No 31/1999 jo UU No 20/2001, suap didefinisikan setiap orang yang memberi atau menjanjikan sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dengan maksud pegawai negeri atau penyelenggara negara tersebut berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya. 

Dalam buku saku memahami tindak pidana korupsi Memahami untuk Membasmi yang dikeluarkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dijelaskan bahwa cakupan suap adalah (1) setiap orang, (2) memberi sesuatu, (3) kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara, (4) karena atau berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya.

Menjadi anggota Polri adalah pekerjaan mulia, alangkah baiknya pekerjaan ini juga diawali dengan kebaikan dan semoga terus istiqomah dalam kebaikan hingga akhir. Tindakan yang dilakukan oleh Joe Khana Al-Ahmad tersebut merupakan tindakan yang dilakukan atas kemauannya sendiri. Di sisi lain, amat disayangkan Kepolisian harus kehilangan seorang anggotanya yang berakhlak mulia seperti beliau. 

Saya sendiri sebagai anggota Polri sangat mengimpikan suatu hari nanti Indonesia memiliki instansi Kepolisian yang semua anggotanya jujur, berwibawa dan berakhlak mulia sehingga dimanapun dia berada membawa berkah dan perasaan aman bagi masyarakatnya. Polri harus terus tumbuh menjadi lebih baik lagi.  
Continue..

Mathilda Batlayeri Jadi Nama Bandara

Bandara Mathilda Batlayeri, Saumlaki, MTB (Foto satumaluku.com)

Lima tahun yang lalu bertepatan tanggal 23 Maret 2010 saya pernah menulis kisah heroik Mathilda Batlayeri seorang Bhayangkari (Istri Polisi) dari AP II (Agen Polisi II) Adrianus Batlayeri yang gugur pada Rabu, 28 September 1953 dalam mempertahankan pos / asrama Polisi Kurau, Kabupaten Tanah Laut (Dahulu Kewedanaan Tanah Laut), Kalimantan Selatan bersama ketiga anaknya. Tulisan tersebut dapat dibaca di link berikut
Mathilda Batlayeri Pahlawan Bhayangkari
 
Perjuangan Bhayangkari Mathilda Batlayeri bersama 5 anggota Polisi
dalam mempertahankan Pos / Asrama Polisi Kurau

Pada saat itu, saya tidak menyangka bahwa tulisan tersebut akan menjadi inspirasi bagi masyarakat dan pemerintah Maluku untuk menjadi nama Mathilda Batlayeri sebagai nama Bandar Udara (Bandara) di Saumlaki, ibu kota Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB) yang telah dioperasikan pada 9 Mei 2014 yang lalu.

Monumen Mathilda Batlayeri di Tanah Laut, Kalsel
Selain monumen Bhayangkari yang ada di Kabupaten Tanah Laut (Tala), Kalimatan Selatan, monumen juga dibangun di Saumlaki, MTB yang diresmikan pada Agustus 2015 yang lalu. Bupati MTB, Bitto Temmar bahkan berinisiatif menulis kembali sejarah lengkap perjuangan Mathilda Batlayeri untuk dijadikan buku. Selain itu pemerintah Maluku juga berencana mengusulkan Mathilda Batlayeri menjadi pahlawan nasional.
 
Monumen Mathilda Batlayeri di Saumlaki, MTB (Foto Dharapost.com)

Saya turut merasa senang tulisan saya tersebut dapat berguna bagi masyarakat dan pemerintah Maluku. Guna menambah masukan akan sejarah perjuangan Mathilda Batlayeri di Kalimantan Selatan, pada tulisan ini saya tambahkan beberapa foto-foto dokumentasi yang dikumpulkan oleh Polda Kalimantan Selatan.

Semoga bermanfaat.

Pintu gerbang monumen Bhayangkari Teladan Mathilda Batlayeri di Kurau, Kab. Tanah Laut, Kalsel
Monumen Bhayangkari Teladan Mathilda Batlayeri di Kurau

Tiang kayu penanda tempat jasad Mathilda Batlayeri gugur

Tiang kayu penanda tempat jasad ketiga anak Mathilda yang gugur

Pesan Mathilda Batlayeri kepada para penerus bangsa

Makam Mathilda Batlayeri di Taman Makam Pahlawan Pelaihari, Kalsel


Makam ketiga anak Mathilda Batlayeri (Alex, Lodewijk & Max) di Taman Makam Pahlawan Pelaihari, Kalsel
   
Continue..

Anak Kesayanganku Telah Pergi



Satu tahun sudah kepergian anakku, Rezi Windarto namanya, seorang Brimob Polri berpangkat Bharada yang bertugas di Jakarta. “Assalamualaikum Bu, do’akan aku, untuk kesuksesanku di kota orang”. Kata-kata itulah yang terakhir aku dengar langsung dari bibirnya sebelum berangkat tugas mengabdi kepada nusa dan bangsa.

Continue..

Polisi Istimewa Dalam Pertempuran Surabaya


“Tanpa peran M. Jasin dan Pasukan Polisi Istimewa tidak akan ada peristiwa 10 November.”

Demikian pernyataan Jenderal (TNI) Moehammad Wahyu Soedarto, seorang tokoh yang terlibat dalam peristiwa heroik 10 November 1945. 10 November 1945 diabadikan dalam sejarah bangsa dan diperingati sebagai Hari Pahlawan. Peristiwa ini terjadi di Surabaya dan di kota Pahlawan ini Polisi pernah melaksanakan “Proklamasi Polisi” Dalam ejaan lama yang berbunyi :

“Oentoek bersatoe dengan rakjat dalam perdjoeangan mempertahankan Proklamasi 17 Agoestoes 1945, dengan ini menjatakan Polisi sebagai Polisi Repoeblik Indonesia”.

Soerabaja, 21 Agoestoes 1945
Atas Nama Seloeroeh Warga Polisi
Moehammad Jasin – Inspektoer Polisi Kelas I

Proklamasi Polisi itu merupakan suatu tekad anggota Polisi untuk berjuang melawan tentara Jepang yang masih bersenjata lengkap, walaupun sudah menyerah. Proklamasi itu juga bertujuan untuk meyakinkan rakyat bahwa Polisi adalah aparat negara yang setia kepada Republik Indonesia yang berjuang bersama rakyat dan bukanlah alat penjajah. Ketika menjadi insiden bendera, 19 september 1945, Polisi Pimpinan Moehammad Jasin bergerak cepat mereka menyatu dengan rakyat. 


Jenderal TNI Muhammad Wahyu Sudarto – Pelaku 10 November 1945, menyatakan :

Saya hanyalah bagian dari sejarah perjuangan tanah air. Itu pun Cuma di Jawa Timur, khususnya di Surabaya. Sebetulnya pada “Peristiwa Surabaya” ada tokoh yang lebih hebat tetapi di mana kini tidak banyak yang kenal. Namanya Moehammad Jasin, orang Sulawesi Selatan. Jika beliau tidak ada, Surabaya tidak mungkin seperti sekarang. Beliau adalah Komandan Pasukan Polisi Istimewa. Kalau tugas Bung Tomo adalah “memanas-manasi rakyat”, Pak Jasin ini memimpin pasukan tempur. Kesatuannya boleh dibilang kecil, cuma beberapa ratus orang saja. Itu sebabnya mereka bergabung dengan rakyat. Kalau rakyat sedang bergerak, di tengah-tengah selalu ada truk atau panser milik Pasukan Polisi Istimewa lengkap dengan senjata mesin. Melihat Rakyat bak gelombang yang tak henti-henti itu, Jepang yang waktu itu sudah kalah dari Pasukan Sekutu menyerah kepada RI dan intinya adalah Pak Jasin.
Demikian pula kala Inggris (Sekutu) mendarat di Surabaya. Bila tidak ada Pak Jasin, arek-arek Suroboyo tidak bisa segalak itu. Pasukan Inggris datang pertama kali dengan satu brigade pada 28 Oktober 1945. Namun, setelah mereka terdesak, secara bertahap mendarat lagi empat brigade”
(JENDERAL TNI MUHAMAD WAHYU SUDARTO – PELAKU 10 NOVEMBER 1945)

Polisi Istimewa (PI) adalah jelmaan  dari CSP (Central Special Police). Apalagi, pada Agustus 1945 itu, hanya Polisi yang masih memegang senjata. Karena, setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, penguasa Jepang di Indonesia membubarkan tentara PETA dan Heiho, sedangkan senjata mereka dilucuti. Soetamo (Bung Tomo), pemimpin Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) yang juga salah satu pejuang terkemuka dalam peristiwa 10 November 1945 di Surabaya, menyatakan :

“PETA diharapkan dapat mendukung perjuangan di Surabaya tahun 1945 , tetapi PETA membiarkan senjatanya dilucuti oleh Jepang, untung ada Pemuda M. Jasin dengan pasukan-pasukan Polisi Istimewanya yang berbobot tempur mendukung dan mempelopori perjuangan di Surabaya.”
- Soetomo (Bung Tomo)

Pasukan Polisi Istimewapun pada saat itu diperintahkan oleh Jepang untuk menyerahkan senjatanya, karena Jepang ditugaskan oleh sekutu untuk menjaga dan memelihara keamanan di Indonesia agar sekutu dengan aman dapat menginjakkan kakinya di bumi Indonesia. Namun secara tegas Polisi menolak perintah tersebut sehinga pada masa itu hanya Polisi yang memiliki persenjataan sedangkan kesatuan lain tidak ada. 


Hal ini juga ditegaskan oleh Jenderal TNI AD SUDARTO ex. TRIP dan pelaku 10 Nop 1945 sbb :

“Omong kosong kalau ada yang mengaku di bulan Agustus 1945 memiliki kesatuan bersenjata. Yang ada pada waktu itu hanya pasukan-pasukan Polisi Istimewa pimpinan M. JASIN, bahkan ia menyatakan bahwa tanpa peran pasukan pasukan Polisi Istimewa dibawah pimpinan M. JASIN tidak akan ada peristiwa 10 Nopember 1945.”
- Jenderal TNI AD SUDARTO ex. TRIP dan pelaku 10 Nop 1945

Pernyataan itu menunjukkan bahwa jika pertempuran itu berlangsung tanpa dukungan dan kepeloporan Pasukan Polisi Istimewa, niscaya patriotisme perjuangan rakyat di Surabaya tidak akan seheroik apa yang tercatat dalam sejarah. Hal itu juga dikuatkan dalam pidato peresmian Monumen Perjuangan Polisi Republik Indonesia di Surabaya yang disampaikan oleh Pangab RI, Jenderal (TNI) Tri Surtrisno pada 2 Oktober 1988,Kekuatan Pasukan Polisi Istimewa pimpinan M. Jasin harus dikaji oleh seluruh bangsa Indonesia.”

Lebih lanjut Jendral (TNI) Tri Sutrisno mengatakan,
Tindakan Inspektur I Moehammad Jasin untuk mempersenjatai Rakyat Pejuang telah memberikan andil yang cukup besar dalam gerak maju para pejuang kemerdekaan di Surabaya, yang kemudian mencapai puncaknya dalam pertempuran heroik di Surabaya tanggal 10 Nopember 1945”.

Persenjataan yang dibagikan oleh Polisi ini didapat dari gudang-gudang senjata tentara Jepang yang diserbu dan direbut secara paksa maupun dengan perjanjian penyerahan senjata dengan jaminan keselamatan tentara Jepang karena mereka sudah amat terdesak hingga menyerah. Dalam perjanjian penyerahan senjata ini, M. Jasin hadir sebagai wakil dari pihak Indonesia dan menjamin keselamatan jiwa tentara Jepang yang menyerah.

Seperti yang tercatat dalam buku Soetjipto Danoekoesoemo, "Hari-Hari Bahagia Bersama Rakyat". Tiga peleton tentara Jepang menyerahkan senjata kepada Polisi Istimewa Seksi I dengan syarat keselamatan mereka dijamin, pada 1 Oktober 1945.

Pada 2 Oktober 1945, di Gedung General Electronics di Kaliasin Jepang menyerahkan senjata setelah terjadi pertempuran sengit dengan Tim Polisi Istimewa di bawah pimpnan Soetjipto Danoekoesoemo. Dalam pertempuran ini tentara Jepang mengeluarkan senjata-senjata mitraliur.



Pada Hari yang sama, M. Jasin yang bersama Soetomo (Bung Tomo) yang mewakili pihak Indonesia berhasil menandatangani perjanjian penyerahan senjata untuk membuka gudang Arsenal tentara Jepang yang terbesar se-Asia Tenggara di Don Bosco-Sawahan, Surabaya. Pelucutan ini diawali dengan perlawanan sengit tentara Jepang. Setelah terjadi tembak-menembak sengit dan menelan korban jiwa barulah Jepang menyerahkan senjata.

Pada akhirnya tentara Jepang menyerahkan seluruh persenjataan, termasuk tank dan panser kepada Polisi Istimewa. Polisi Istimewa kemudian membagi-bagikan senjata tersebut kepada rakyat dan pemuda dalam organisasi perjuangan. Segera setelah itu, Surabaya dibanjiri senjata api dari berbagai jenis yang digunakan untuk menghadapi pasukan Inggris dan Belanda pada peristiwa Hari Pahlawan.


Dalam pertempuran-pertempuran melawan tentara Jepang, Abdul Radjab ex TRIP, pelaku 10 Nopember 1945, menyatakan :

Pasukan-pasukan Polisi Istimewa bertempur melawan Tentara Jepang dengan gagah berani”
- Abdul Radjab ex TRIP, pelaku 10 Nopember 1945



Selain membagikan senjata, Polisi Surabaya juga giat melatih perang para pemuda dan rakyat dalam menghadapi serangan tentara sekutu. Mempersenjatai rakyat pejuang sekaligus gerakan pembinaan kemiliteran dan pelatihan tempur yang dipelopori oleh Kesatuan Polisi Istimewa ini secara langsung sangat berpengaruh hingga tersusunnya kesatuan-kesatuan Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang kemudian berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Dari pembinaan kemiliteran dan pelatihan tempur tersebut membuat Jenderal TNI/AD Sukanto Sayidiman menyatakan, "Pak Jasin dan Pasukan Polisi Istimewa adalah guru dan pelatih kami."

Adanya Kepolisian di Indonesia sejak awal kemerdekaan sebelum adanya kesatuan bersenjata lainnya juga membuat DR. H. Ruslan Abdulgani eX TRIP dan tokoh pejuang yang turut berperan aktif dalam Palagan 10 November 1945 ini mengatakan bahwa "Pasukan Polisi Istimewa lahir lebih dulu dari yang lain".




Keterlibatan M. Jasin sebagai pasukan Polisi Istimewa dalam peristiwa heroik itu jelas tidak diingkari oleh semua tokoh pejuang yang terlibat. Bahkan seorang Jenderal TNI AD, Abdul Kadir Besar SH, juga menyatakan, “Saya berani mempertanggungjawabkan pemberian kedudukan bagi Moehammad Jasin sebagai Singa Pejuang Republik Indonesia berdasarkan jasa-jasanya.”

Penyataan senada diberikan juga oleh seorang tokoh penting peristiwa 10 November 1945, DR. H. Roeslan Abdulgani, yaitu : “M. Jasin dan Polisi Istimewa yang dipimpinnya adalah modal pertama perjuangan di Surabaya.”

Demikian Pula pernyataan Jenderal (TNI) Moehammad Wahyu Soedarto, seorang tokoh yang terlibat dalam peristiwa heroik itu, yaitu : “Tanpa peran M. Jasin dan Pasukan Polisi Istimewa tidak akan ada peristiwa 10 November.”
Kehebatan Pasukan Polisi Istimewa dalam arena perjuangan Surabaya bukan hanya dikagumi kawan tapi juga disegani oleh lawan. Hal ini terdapat dalam pernyataan resmi dari Menteri Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan (Ministerie van Onderwijs en Wetenschappen) Pemerintah Belanda, oleh Van der Wall
De Poelisi Istimewa, de gewezen Poelisi Istimewa guderende de Japanse tijd, onder leiding van M. Jasin is niets anders dan een Militaire strijd kracht.” (Polisi Istimewa, Mantan Polisi Istimewa diwaktu Jepang, pimpinan M. Jasin tidak lain adalah satu kekuatan tempur militer).
Peran Polisi tidak pernah diungkit-ungkit dalam peristiwa Hari Pahlawan, Padahal Peran Polisi sangat utama dan strategis dimana tanpa Polisi tidak ada yang namanya Hari Pahlawan yang sekarang setiap tahun kita peringati. Masyarakat banyak yang tidak tahu tentang sejarah Polisi bahkan di kalangan Polisi sendiri pun kurang akan kesadaran sejarahnya sendiri. Padahal Bung Karno mengatakan, “Jangan Sekali-Sekali Meninggalkan Sejarah (Jas Merah)”.

Sumber :
Memoar Jasin Sang Polisi Pejuang
Meluruskan Sejarah Kelahiran Polisi Indonesia
Diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama
Jakarta, 2010
Continue..

Kepolisian, Satu-Satunya Kesatuan Bersenjata di Awal Kemerdekaan

“Omong kosong kalau ada yang mengaku di bulan Agustus 1945 memiliki kesatuan bersenjata. Yang ada pada waktu itu hanya pasukan-pasukan Polisi Istimewa pimpinan M. JASIN, bahkan ia menyatakan bahwa tanpa peran pasukan pasukan Polisi Istimewa dibawah pimpinan M. JASIN tidak akan ada peristiwa 10 Nopember 1945.” 

Demikian ungkapan tegas Jenderal TNI AD SUDARTO ex. TRIP dan pelaku 10 Nop 1945. Ungkapan tersebut dikeluarkan karena pada awal Agustus 1945 hanya Polisilah organisasi yang relatif lengkap dan terorganisir serta satu-satunya kesatuan yang masih memegang senjata pada masa itu.

Karena kesatuan bersenjata pada awal kemerdekaan masih belum terbentuk maka Polisi diberikan tugas untuk menjaga keamanan Republik Indonesia yang baru lahir ini. Untuk mengukuhkan kedudukan Kepolisian di Indonesia tersebut, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada tanggal 19 Agustus 1945, memasukkan Kepolisian dalam lingkungan Departemen Dalam negeri yang diberi nama Badan Kepolisian Negara (BKN).

Karena keberadaan organisasi Polisi telah ada di awal kemerdekaan Indonesia sedangkan kesatuan bersenjata lainnya belum terbentuk maka pelak saja membuat DR. H. Ruslan Abdulgani eX TRIP mengatakan bahwa "Pasukan Polisi Istimewa lahir lebih dulu dari yang lain".
 
Kepolisian yang menjadi satu-satunya kesatuan yang memiliki senjata di awal kemerdekaan Indonesia bukanlah tanpa sebab. Hal ini karena setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, penguasa Jepang di Indonesia membubarkan tentara PETA dan Heiho, sedangkan senjata mereka dilucuti. 

Hal ini dilakukan Jepang karena setelah kalah perang, tentara Jepang di Indonesia mendapat perintah dari Sekutu untuk menjaga satusquo sampai kedatangan Sekutu di Indonesia. 

Pelucutan senjata PETA oleh Jepang sangat disayangkan oleh Soetamo (Bung Tomo), pemimpin Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) yang juga salah satu pejuang terkemuka dalam peristiwa 10 November 1945 di Surabaya, yang menyatakan :

“PETA diharapkan dapat mendukung perjuangan di Surabaya tahun 1945 , tetapi PETA membiarkan senjatanya dilucuti oleh Jepang, untung ada Pemuda M. Jasin dengan pasukan-pasukan Polisi Istimewanya yang berbobot tempur mendukung dan mempelopori perjuangan di Surabaya.”
- Soetomo (Bung Tomo)




Setelah melucuti tentara PETA dan Heiho, Tentara Jepang juga memerinahkan Kepolisian Indonesia untuk menyerahkan senjatanya namun secara tegas ditolak. Malah kondisi tersebut dimanfaatkan oleh Inspektur Kelas I (Letnan Satu) Polisi Mochammad Jassin, Komandan Polisi di Surabaya, untuk membangkitkan semangat moral dan patriotik seluruh rakyat maupun organisasi-organisasi pejuang tanah air secara bersama melakukan pelucutan senjata tentara Jepang yang kalah perang. 

Di Kota Surabaya tempat terjadinya Hari Pahlawan, Polisi pernah melaksanakan “Proklamasi Polisi” Dalam ejaan lama yang berbunyi : 

“Oentoek bersatoe dengan rakjat dalam perdjoeangan mempertahankan Proklamasi 17 Agoestoes 1945, dengan ini menjatakan Polisi sebagai Polisi Repoeblik Indonesia”. 

Soerabaja, 21 Agoestoes 1945 
Atas Nama Seloeroeh Warga Polisi 
Moehammad Jasin – Inspektoer Polisi Kelas I 

Proklamasi Polisi itu merupakan suatu tekad anggota Polisi untuk berjuang melawan tentara Jepang yang masih bersenjata lengkap, walaupun sudah menyerah. Proklamasi itu juga bertujuan untuk meyakinkan rakyat bahwa Polisi adalah aparat negara yang setia kepada Republik Indonesia yang berjuang bersama rakyat dan bukanlah alat penjajah. 

Segera setelah itu, Polisi Istimewa bersama-sama rakyat menyerbu seluruh gudang-gudang senjata tentara Jepang. Tentara Jepang yang amat terdesak akhirnya menyerah dan harus menandatangani perjanjian penyerahan senjata dengan M. Jasin sebagai wakil dari pihak Indonesia untuk menjamin keselamatan jiwa tentara Jepang yang menyerah. 

Dalam pertempuran-pertempuran melawan tentara Jepang, Abdul Radjab ex TRIP, pelaku 10 Nopember 1945, menyatakan : 
“Pasukan-pasukan Polisi Istimewa bertempur melawan Tentara Jepang dengan gagah berani” 

Pada suatu waktu setelah tembak-menembak yang sengit dan menelan korban jiwa, M. Jasin yang bersama Soetomo (Bung Tomo) yang mewakili pihak Indonesia berhasil menandatangani perjanjian penyerahan senjata untuk membuka gudang Arsenal tentara Jepang yang terbesar se-Asia Tenggara di Don Bosco-Sawahan, Surabaya. 

Berkaitan dengan kejadian pelucutan senjata tentara jepang tersebut, Jenderal TNI Muhammad Wahyu Sudarto – Pelaku 10 November 1945, menyatakan:

Saya hanyalah bagian dari sejarah perjuangan tanah air. Itu pun Cuma di Jawa Timur, khususnya di Surabaya. Sebetulnya pada “Peristiwa Surabaya” ada tokoh yang lebih hebat tetapi di mana kini tidak banyak yang kenal. Namanya Moehammad Jasin, orang Sulawesi Selatan. Jika beliau tidak ada, Surabaya tidak mungkin seperti sekarang. Beliau adalah Komandan Pasukan Polisi Istimewa. Kalau tugas Bung Tomo adalah “memanas-manasi rakyat”, Pak Jasin ini memimpin pasukan tempur. Kesatuannya boleh dibilang kecil, cuma beberapa ratus orang saja. Itu sebabnya mereka bergabung dengan rakyat. Kalau rakyat sedang bergerak, di tengah-tengah selalu ada truk atau panser milik Pasukan Polisi Istimewa lengkap dengan senjata mesin. Melihat Rakyat bak gelombang yang tak henti-henti itu, Jepang yang waktu itu sudah kalah dari Pasukan Sekutu menyerah kepada RI dan intinya adalah Pak Jasin.
Demikian pula kala Inggris (Sekutu) mendarat di Surabaya. Bila tidak ada Pak Jasin, arek-arek Suroboyo tidak bisa segalak itu. Pasukan Inggris datang pertama kali dengan satu brigade pada 28 Oktober 1945. Namun, setelah mereka terdesak, secara bertahap mendarat lagi empat brigade”
(JENDERAL TNI MUHAMAD WAHYU SUDARTO – PELAKU 10 NOVEMBER 1945)

Senjata Rampasan yang direbut dari tentara Jepang tersebut kemudian dibagi-bagikan kepada rakyat dan pemuda dalam organisasi perjuangan. Segera setelah itu, Surabaya dibanjiri senjata api dari berbagai jenis yang digunakan untuk menghadapi pasukan Inggris dan Belanda pada peristiwa Hari Pahlawan.

Berdasarkan hal tersebtu Jendral (TNI) Tri Sutrisno, Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dalam pidato peresmian Monumen Perjuangan Polisi Republik Indonesia di Surabaya pada tanggal 2 Oktober 1988 menyampaikan,
Tindakan Inspektur I Moehammad Jasin untuk mempersenjatai Rakyat Pejuang telah memberikan andil yang cukup besar dalam gerak maju para pejuang kemerdekaan di Surabaya, yang kemudian mencapai puncaknya dalam pertempuran heroik di Surabaya tanggal 10 Nopember 1945”.

Pada kesempatan yang sama Pangab RI, Jenderal (TNI) Tri Surtrisno menyampaikan, “Kekuatan Pasukan Polisi Istimewa pimpinan M. Jasin harus dikaji oleh seluruh bangsa Indonesia.”
 

Selain mempersenjatai rakyat pejuang, Polisi Istimewa juga melakukan gerakan pembinaan kemiliteran dan pelatihan tempur untuk menghadapi pasukan sekutu. Hal ini secara langsung sangat berpengaruh hingga tersusunnya kesatuan-kesatuan Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang kemudian berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR),  cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI). 

Dari gerakan pembinaan kemiliteran dan pelatihan tempur tersebut membuat Jenderal TNI / AD Sukanto Sayidiman menyatakan, "Pak Jasin dan Pasukan Polisi Istimewa adalah guru dan pelatih kami."


Kepeloporan Polisi Istimewa di Surabaya tersebut juga membuat DR. H. Ruslan Abdulgani mengatakan, “M. Jasin dan Polisi Istimewa yang dipimpinnya adalah modal pertama perjuangan di Surabaya.”

Pernyataan itu menunjukkan bahwa jika pertempuran itu berlangsung tanpa dukungan dan kepeloporan Pasukan Polisi Istimewa, niscaya patriotisme perjuangan rakyat di Surabaya tidak akan seheroik apa yang tercatat dalam sejarah.

Namun entah mengapa peran Polisi tersebut tidak pernah diungkit-ungkit dalam sejarah hari Pahlawan. Padahal kepeloporan Polisi Istimewa pada 10 November 1945 bahkan membuat Jenderal (TNI) Moehammad Wahyu Soedarto, seorang tokoh yang terlibat dalam persitiwa heroik hari pahlawan, berani mengatakan bahwa “Tanpa peran M. Jasin dan Pasukan Polisi Istimewa tidak akan ada peristiwa 10 November.”



Keterlibatan M. Jasin sebagai pasukan Polisi Istimewa dalam peristiwa heroik hari pahlawan jelas tidak diingkari oleh semua tokoh pejuang yang terlibat. Bahkan seorang Jenderal TNI AD, Abdul Kadir Besar SH, juga menyatakan, “Saya berani mempertanggungjawabkan pemberian kedudukan bagi Moehammad Jasin sebagai Singa Pejuang Republik Indonesia berdasarkan jasa-jasanya.”

Kehebatan Pasukan Polisi Istimewa dalam kancah perjuangan Surabaya bukan hanya dikagumi kawan tapi juga disegani oleh lawan. Hal ini terdapat dalam pernyataan resmi dari Menteri Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan (Ministerie van Onderwijs en Wetenschappen) Pemerintah Belanda, oleh Van der Wall
De Poelisi Istimewa, de gewezen Poelisi Istimewa guderende de Japanse tijd, onder leiding van M. Jasin is niets anders dan een Militaire strijd kracht.” (Polisi Istimewa, Mantan Polisi Istimewa diwaktu Jepang, pimpinan M. Jasin tidak lain adalah satu kekuatan tempur militer).
Begitu hebatnya para pendahulu POLRI jangan sampai kita melupakan perjuangan POLRI di awal kemerdekaan RI tersebut sebagaimana kata mendiang Bung Karno, "Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah (Jasmerah)". 

Perjuangan para Pendahulu POLRI ini juga harus menjadi teladan bagi generasi-generasi POLRI selanjutnya dan saat ini dengan terus memohon petunjuk dan bimbingan Allah SWT dalam melanjutkan pengabdian kepada masyarakat, bangsa dan negara.

Sumber :
Memoar Jasin Sang Polisi Pejuang
Meluruskan Sejarah Kelahiran Polisi Indonesia
Diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama
Jakarta, 2010


Continue..

Briptu Victor Penjaga Merah Putih di Perbatasan Papua

 Menjaga kedaulatan negara di perbatasan, tak cuma dilakukan TNI. Banyak kisah menarik yang juga dialami para anggota kepolisian. Seperti yang dilakukan Kepala Kepolisian Sub Sektor (Kapolsubsektor) Oksamol Briptu Victor Merani.
Continue..