Kumpulan Kisah Mengenai Kepolisian

Polwan dalam Misi Penyelamatan di Yaman

Persiapan berangkat Tim Penyelamat RI dari Jizan, Saudi Arabia menuju Al Hudaydah, Yaman

Pertikaian yang terjadi antara milisi Houthi dengan koalisi Saudi Arabia di Yaman pada tahun 2015 yang lalu, memaksa pemerintah Indonesia harus secepatnya mengevakuasi WNI di Yaman. Pemerintah Indonesia membentuk tim untuk menjalankan misi penyelamatan WNI di Yaman. Dalam misi tersebut Kemenlu meminta kepada Kapolri mengirimkan dua orang Polwan untuk ikut dalam misi untuk menangani serta melayani perempuan dan anak selama proses evakuasi berlangsung.

Dari sekian banyak nama Polwan, terpilih dua orang yaitu AKBP drg. Lisda Cancer, MBiotech dan Kompol Elya Susanti, SIK dari Baharkam. Berikut sekelumit pengalaman dua Polwan tersebut selama pelaksanaan tugas evakuasi WNI di Yaman.

Yaman mencekam, terlebih pada malam hari karena setiap malam terdengan suara tembakan yang sesekali diselingi suara ledakan Bom. Tak kalah mencekam ketika hari Sabtu, 11 April 2015 koalisi Saudi Arabia memborbardir Kota Al Hudaydah dengan bom yang berjarak 2 Km dari safe house (penampungan) WNI.Syukurlah safe house tidak mengalami kerusakan, hanya suara dentuman dan getaran yang dasyat dirasakan.

Dari sekian banyak peristiwa yang dialami tim penyelamat, AKBP drg. Lisda menceritakan kisah menegangkan ketika "disandera" milisi Houthi karena kedapatan membawa body vest (rompi anti peluru).

Polwan AKBP drg. Lisda memakai abaya pada misi penyelamatan di Yaman

Pada hari senin, 6 April 2015 pukul 08.00 waktu setempat (WS), tim penyelamat menuju Al Hudaydah, Yaman dari Jizan, Saudi Arabia melalui jalur darat setelah dilepas oleh Dubes RI untuk Yaman bapak Wajid Fauzi yang sudah berada di Jizan, Konjen Jeddah, Athan, dan Atpol. 

Sekitar pukul 10 WS, setelah melalui beberapa check point, kami sampai di perbatasan keluar Saudi Arabida di Thawal dengan aman. Setelah mulai memasuki perbatasan wilayah Yaman, banyak tentara bersenjata laras panjang berjaga-jaga di perbatasan. Selain petugas imigrasi, perbatasan ini dijaga ketat oleh tentara Houthi dan Kabilah. 

Selanjutnya tim memasuki tempat pemeriksaan dokumen dan barang bawaan, namun ditengah pemeriksaan mereka mendapati banyak obat-obatan dan body vest, barang-barang tersebut tidak diizinkan dibawa. Upaya negosiasi dan diplomasipun dilakukan, namun petugas imigrasi dan tentara Houthi tetap tidak mengizinkannya dibawa. Karena belum ada kata sepakat, tim diminta untuk bernegosiasi dengan pimpinan mereka di Kota Harard, kurang lebih 2 Km dari perbatasan.

Sesampainya di Harard,  tim bernegosiasi di sebuah kamar hotel dengan pimpinan Houthi yang menguasai wilayah tersebut dengan penjagaan ketat tentara Houthi dan kabilah lengkap dengan senjata laras panjang, baik di luar maupun di lobby hotel bahkan di dalam kamar kami melakukan negosiasi. Meskipun demikian tim penyelamat dari Indonesia diperlakukan dengan baik sebagai tamu.

Suasana salah satu check point di Perjalanan Yaman
Sekitar dua jam bernegosiasi, mereka hanya memperbolehkan kami membawa obat-obatan, namun tidak dengan body vest. Mereka berkata tim penyelamat tidak memerlukan body vest, mereka menjamin keamanan dan keselamatan tim serta WNI yang akan dievakuasi selama di Yaman.

Kalo tetap memaksa ingin membawa body vest, mereka menyarankan agar perwakilan KBRI untuk bernegosiasi dengan pimpinan mereka yang lebih tinggi dan tim negosiasi tidak boleh meninggalkan hotel selama pertemuan belum terlaksana kemudian diberikan 3 kunci kamar. Saat itu tim sadar mereka sedang "tersandera", seketika itu tim berdiskusi dan bernegosiasi dan akhirnya harus merelakan 12 body vest (salah satunya milik pribadi KBP Krishna Murti) disita di perbatasan.

Akhirnya tentara Houthi membebaskam tim penyelamat untuk meluncur ke Kota Al Hudaydah namun ketegangan tidak berakhir di sana. Diperkirakan perjalanan akan memakan waktu 3 jam  dimana tim tiba di tujuan pukul 5 sore namun dalam perjalanan banyak sekali check point yang harus dilewati sehingga perjalanan menjadi terhambat. hari mulai gelap, sementara perjalanan masih tersendat apalagi baku tembak biasanya terjadi mulai pukul 7 malam sampai pukul 7 pagi membuat suasana makin mencekam.

Menerima TKI di Safe House dan membantu melengkapi dokumen
Selama perjalanan melewati bukit berbatu, banyak melihat tank tentara, baik di bawah maupun di atas bukit dengan posisi siap tembak. Namun Alhamdulilah setelah melalui belasan check point, bersamaan waktu adzan Magrib kami sampai di penginapan dengan selamat. Alhamdulillah 10 am yang menegangkan selama perjalanan dari Jidan-Arab Saudi ke Al Hudaydah, Yaman dapat kami lalui dengan selamat.

Sumber :
Majalah Warta (Kedokteran kepolisian dan Kesehatan)
edisi 98 Tahun 2015.
Continue..